Tuesday, October 18, 2016

Repost : EDGAR (Epung DenGAn Renzy)

Ini adalah screen shoot photo tulisan saya tentang Edgar, anak pertama yang pintar. Karena saya tidak bisa sign in ke blog yang sebelumnya, maka saya screen shoot dan saya posting disini. 




Love Mama buat Edgar.

Kelahiran Nona (5-5-2016)

Tahun 2016 ini alhamdulillah dikasih kado lagi sama Allah. Saya dan suami diamanahi seorang putri cantik yang kami beri nama Nona. Lengkap sudah kebahagiaan kami.

Nona ini sama dengan kakaknya, Edgar, dilahirkan secara sectio. Kali ini saya lebih santai menghadapi persalinan walaupun sedikit deg-degan juga ketika sudah masuk ruang operasi. 

Satu hari sebelum kelahiran Nona, saya dan suami cek rutin ke dokter kandungan, dr. Roza, di RS Sari Asih Ciledug. Sebetulnya kali ini adalah cek terakhir ke dokter, karena prediksi lahirnya memang tanggal 5 Mei. Tapi dokter bilang, dari hasil USG belum ada tanda-tanda kontraksi, jadi masih aman. Kemungkinan lahirnya bisa seminggu lagi. Tapi dokter menyarankan untuk melakukan CTG (Cardiotocography). Malam itu juga, saya dicek CTG untuk mengetahui apakah ada kontraksi. Setelah 1 jam, saya kembali bertemu dokter dan ternyata sudah ada kontraksi walaupun saya tidak merasakannya secara langsung. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi esok hari karena memang kami memilih untuk saya melahirkan secara sesar (lagi). Malam itu saya kembali ke rumah.

Paginya, jam 7.30 saya dan suami sudah ada di RS lagi. Saya berharap pagi itu bisa langsung dilakukan operasi. Ternyata tidak. Selama seharian saya harus diobservasi, diberikan beberapa macam obat, diinfus dan disuntik. Sampai ada suntikan yang fungsinya adalah untuk menguatkan paru-paru bayi, efeknya setelah disuntik saya akan merasakan gatal di seluruh tubuh, tapi hanya beberapa detik saja memang. Suntikan itu tidak hanya sekali, tapi diberikan 3x dengan jarak waktu antara suntikan pertama, kedua, dan ketiga adalah masing-masing 3 jam. 

Cukup bosan juga seharian di rumah sakit hanya diberikan obat dan suntikan. Sampai akhirnya perawat bilang kalau saya dijadwalkan operasi jam 8 malam. Huftt, deg-deg an dimulai..

Malamnya sebelum operasi, saya kedatangan Edgar yang seharian nggak ketemu, bersama ibu dan si uni. Seneng banget liat Edgar, walaupun dia belum ngerti akan punya adik. Jam 7.30 malam, saya siap-siap ganti baju dan masuk ruangan operasi. Suami selalu ngasih support dan semangat dari awal agar saya kuat dan nggak tegang.

Setelah masuk ruang operasi, saya disiapkan untuk "dibelek", hehehe.. Di rumah sakit ini agak berbeda dengan rumah sakit tempat Edgar dilahirkan. Dulu ketika operasi lahiran Edgar, suami bisa melihat proses operasinya walaupun dari jauh. Dia bahkan dibolehkan untuk memvideokan proses operasinya. Makanya saya bisa melihat proses operasi lahiran Edgar melalui video, karena pada waktu itu saya diberi obat tidur sehingga selama operasi berlangsung saya hanya tidur dan nggak tau apa-apa. Sementara itu, rumah sakit ini tidak membolehkan. Nggak apa-apa juga sih ya. hehehe.. Selama di ruang operasi, beberapa dokter (kandungan dan anastesi), saling ngobrol. Saya dengerin aja candaan mereka dan sesekali nimpalin padahal perut saya sedang dibelek. Tapi ya nggak berasa pastinya karena dibius. 

Alhamdulillah, jam 08.45 pm, Nona Khaira Alesha lahir ke dunia dengan berat 3,1kg dan panjang 50cm. Rambutnya lebat, kulitnya bersih, dan kali ini anak saya mirip sama bapaknya. hahaha... Nama Nona saya yang memilih. Suka aja dengernya ketika dia dipanggil nanti dengan namanya yang lucu. Artinya adalah anak perempuan, for sure :). Khaira adalah nama yang diusulkan ayahnya biar mirip dengan nama tengah kakaknya, yang artinya adalah baik. Lalu nama belakangnya, Alesha, juga saya yang memilih, yang saya cari dari internet. Artinya adalah yang dilindungi Allah. Saya dan suami berharap, Nona Khaira Alesha, akan menjadi anak perempuan yang baik yang selalu dilindungi Allah. Amin.

Welcome to the world, my dear Nona. You have completing us (Ayah, mama, and Kakak Edgar). May Allah give you His blessing in the whole life.


Kiss Mama.




Monday, October 10, 2016

Survey TK Edgar (TK Amalina, Pondok Aren)

Karena November tahun ini Edgar akan berusia 4 tahun, itu artinya tahun depan sudah masuk TK A. Duh, time flies so fast yaaaa. hehehe

Hasil dari mamanya denger dan baca curhatan ibu-ibu lain, yang katanya kalau anak kita mau masuk TK, pendaftarannya harus jauh-jauh hari. Maka mulailah si mama survey-survey sekolah TK buat anak bujang yang namanya Edgar. Kali ini survey ke TK Amalina di daerah Pondok Aren. 

Dari rumah sih jaraknya relatif deket, sekitar 6 km saja. Saya dapet info tentang sekolah ini dari temennya suami yang waktu itu main ke rumah. Dia bilang sekolahnya bagus. Lingkungannya aman dan kegiatannya juga bagus. Setelah itu, ada lagi beberapa temen yang bilang kalau TK Amalina ini memang bagus. Akhirnya saya dan suami putuskan untuk liat-liat dan nanya pendaftaran di TK Amalina.

Kesan pertama pas sampai di area sekolah Amalina ini adalah cukup nyaman. Dalam satu area ini ada TK, SD, dan SMP. Ada lapangan basket dan kolam renang juga. Cukup luas sih, tetapi untuk parkiran mobil agak berantakan menurut saya karena tidak dipusatkan pada satu area. Terlebih saat kami sampai di sana berbarengan dengan jam pulang anak TK yang agak ramai karena orang tua pada jemput. But, no problemo sebetulnya. 

Sampai di gedung TK, langsung nanya-nanya bagian pendaftaran. Pendaftaran baru akan dibuka pada bulan November. Untuk TK A, penerimaan siswa sekitar 78 anak, dan akan diprioritaskan anak-anak yang berasal dari Kelompok Bermain (KB) di TK tersebut. Uang masuk pada Juli 2016 lalu 6,8 jt, belum termasuk uang kegiatan sekitar 1,2jt, dan iuran per bulan sebesar 440rb. Mahal ya masuk TK sekarang. Itu belum harga tahun depan pas Edgar masuk lho. ckckckckck

Setelah nanya-nanya biayanya, kami dipersilakan melihat-lihat kelas. Ada 2 lantai di gedung TK ini. Lantai 1 ada 4 kelas yang terdiri dari 1 kelas kelompok bermain, dan 3 kelas untuk TK A. Lantai 2 untuk kelas TK B. Tapi saya dan suami tidak naik ke lantai 2. 

Ruang kelas TK A sangat nyaman. banyak media yang dipakai dalam pembelajaran. Dalam 1 kelas terdiri dari 26 anak dengan 2 guru. Ruang kelasnya bersih dan ber AC. Edgar saja sampai ingin masuk ke dalam kelas, dan terlihat antusias melihat gambar tempel yang ada di setiap dinding. Koridornya pun bersih, dilengkapi dengan loker untuk masing-masing anak tempat menyimpan tas dan ada juga rak sepatu.

Ruang kelas TK A

Edgar ingin masuk ke ruang kelas
Di luar kelas, terdapat playground tempat bermain anak-anak. Mainannya sama dengan mainan TK pada umumnya. Ada perosotan, ayunan, dll. Playground ini indoor, jadi aman buat anak-anak dan guru juga mudah untuk monitoring. 

Playground
Over all, TK Amalina ini masuk dalam list saya dan suami. Selain gedungnya aman, bersih, kegiatannya juga cukup menarik. Sebetulnya standar kegiatan TK sih, tapi nggak tau kenapa suka aja sama TK ini. Jaraknya pun lumayan deket dari rumah. Mudah-mudahan ada rejekinya sehingga Edgar bisa masuk TK Amalina ini. 


Love Mama.






Edgar masuk playgroup

Edgar masuk playgroup
Tahun ini Edgar saya masukin playgroup. Nama playgroupnya adalah Spora. Playgroup rumahan yang ada di Perumahan Villa Japos. Jadi deket dari rumah, bisa jalan kaki juga. Spora ini ada TK A dan TK B juga. Total murid dari playgroup, TK A, sampai dengan TK B ada 29 anak. Nggak terlalu banyak memang, karena tempatnya juga nggak besar. 

Jumlah pertemuannya 3x dalam seminggu yaitu Senin, Rabu, dan Jumat. Durasinya 2 jam dari jam 08.00 s/d 10.00 pagi. Biaya masuknya tahun 2016 ini adalah 2jt dan bulanannya 150rb. Itu sudah termasuk uang kegiatan seperti berenang 1x dalam sebulan, kunjungan ke dokter gigi, puskesmas, dan beberapa kegiatan lainnya. Waktu daftar dapet 2 stel seragam, seragam yang kayak dia pake di foto (untuk hari Senin) dan satu stel lagi seragam olah raga untuk hari Rabu. Hari Jumat pakaiannya bebas. Setiap kali pertemuan juga dikasih makan seperti nasi soto, ayam goreng, dll. 

Gurunya ada 2 orang yaitu Bu Tina dan Bu Rita. Edgar biasa dipegang sama Bu Rita. pertama kali dianter ke sekolah oleh ayahnya (karena saya nggak bisa nganter), Edgar nggak mau masuk kelas. Maunya main di luar aja. Main perosotan, ayunan, dll yang ada di luar kelas. Kejadian seperti itu berlangsung beberapa kali sampai akhirnya dia mau masuk kelas dengan sendirinya, walaupun sampai sekarang masih aja kayak gitu. hehehe..

Minggu lalu pas saya dapet libur 1 minggu, saya yang antar jemput Edgar. Ngobrol sama gurunya dan beberapa orang tua murid yang juga nungguin anaknya disana. Bu Rita bilang kalau sekarang Edgar sudah banyak kemajuan. Yang tadinya nggak mau masuk kelas, sekarang sudah mau. Tadinya nggak mau ngikutin kegiatan seperti mewarnai dll, sekarang pelan-pelan sudah mau. Orang tua murid lain yang suka ada disana juga pada bilang begitu. Mama sih tau itu, Gar. hehehe...

Mudah-mudahan dengan masuk kelas playgroup ini Edgar jadi makin pinter. Mau berinteraksi dengan teman seusianya dan makin lancar ngomongnya. 


Love Mama

Pancasila Sebagai Sumber Nilai

Kita tahu bahwa Pancasila adalah dasar negara dan ideologi negara Indonesia. Pancasila terlahir dari pemikiran tokoh-tokoh yang sangat hebat pada masa penjajahan Jepang. Berawal dari dibentuknya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Beberapa tokoh seperti M. Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno mengemukakan pemikirannya tentang dasar negara. Istilah Pancasila sendiri dicetuskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada sidang tersebut pada tanggal 1 Juni 1945 yang pada akhirnya tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri negara memuat nilai-nilai luhur untuk menjadi dasar negara. Sebagai gambaran, di dalam tata nilai kehidupan bernegara, ada yang disebut sebagai nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis.

Nilai dasar adalah asas-asas yang diterima sebagai dalil yang kurang lebih mutlak. Nilai dasar berasal dari nilai-nilai kultural atau budaya yang berasal dari budaya bangsa Indonesia itu sendiri. Nilai ini tidak bisa diubah dan tidak bisa dihilangkan. Meliputi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai ini bersifat abstrak dan umum.

Nilai instrumental adalah penjabaran dari nilai dasar, biasanya dalam wujud norma sosial atau norma hukum. Bersifat lebih kontekstual dan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Nilai praktis adalah pengamalan dan pelaksanaan dari nilai dasar dan nilai instrumental dalam situasi konkret. Sifatnya amat dinamis.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah contoh penerapan nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis dari Pancasila :

-----------------------------------------------------------------------------------------
  • Nilai dasar : Ketuhanan Yang Maha Esa
  • Nilai instrumental : 
  • Pasal 29 ayat 2 "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu"
  • Nilai praktis : 
  • Beribadah, taqwa, beriman kepada Tuhan 
  • Toleransi antar umat beragama 
  • Tidak menganut atheisme 
  • Tidak mencela agama lain.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  • Nilai dasar : Kemanusiaan yang adil dan beradab
  • Nilai instrumental : 
  • Pasal 26 ayat 3 "Hal-hal yang mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang" 
  • Pasal 27 ayat 2 "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan" 
  • Pasal 28 "Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang" 
  • Pasal 30 ayat 1 "Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara" 
  • Pasal 31 ayat 1 "Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan".
  • Nilai praktis : 
  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antar sesama manusia
  • Saling mencintai sesama manusia 
  • Mengembangkan sikap tenggang rasa
  • Tidak semena-mena terhadap orang lain
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

  • Nilai dasar : Persatuan Indonesia
  • Nilai instrumental : 
  • Pasal 1 ayat 1 "Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik" 
  • Pasal 32 ayat 2 "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional"
  • Pasal 36 "Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih" 
  • Nilai praktis
  • Menjaga persatuan dan kesatuan NKRI
  • Rela berkorban demi bangsa dan negara
  • Cinta tanah air
  • Bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

  • Nilai dasar : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  • Nilai instrumental : 
  • Pasal 1 ayat 2 "Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar" 
  • Nilai praktis :
  • Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat
  • Tidak memaksakan kehendak orang lain
  • Mengutamakan budaya musyawarah dalam mengambil keputusan bersama 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

  • Nilai dasar : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
  • Nilai instrumental : 
  • Pasal 27 ayat 1 "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya"
  • Pasal 33 ayat 3 "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan  untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat"
  • Pasal 34 ayat 3 "Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak 
  • Nilai praktis :  
  • Bersikap adil terhadap sesama
  • Menghormati hak-hak orang lain
  • Menolong sesama
  • Menghargai orang lain 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Sumber : Buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas XII